dew'site

fastabiqul khoirot yukz ^_^

lain-lain

Asa dari Sahabatku

Oleh: Dewi Astuti

 Cahaya senja mulai mendatangi teras rumahku, cahayanya yang merah kekuning-kuningan terus saja memancar. Aku menatapnya, tapi mataku menerawang jauh di tempat itu, tempat dulu aku sempat menimba ilmu. Ilmu dunia jenjang menengah kejuruan dengan jurusan menjahit. Di sana kami mempelajari membuat pola, cara menggunakan alat jahit, cara membuat bordir, jenis-jenis benang dan masih banyak yang lainnya. Sekolahku termasuk tidak diminati manusia di daerahku. Buktinya saja mereka lebih memilih masuk ke sekolah menengah atas (SMA) unggulan yang ada di daerahku, jadilah siswa di sekolahku hanya 40 orang, di kelasku hanya ada 15 siswa, 12 perempuan dan 3 laki-laki. Walaupun siswa di sekolahku sedikit tapi tetap saja pemerintah masih memperbolehkan sekolah itu beroperasi. Entah apa yang dipikirkan pemerintah, aku belum tahu karena aku pun tak terlalu peduli dengan masalah itu. Guru-guru yang mengajar pelajaran umum (selain pelajaran tentang menjahit) kebanyakan berasal dari SMA unggulan. Menurutku guru-guru tersebut kurang optimal mendidik kami, mungkin sikap kami yang terlihat acuh dan malas untuk menerima pelajaran dari mereka. Tidak seperti teman-temanku, Diah dengan rendah diri  dan aku dengan semangat 45 selalu mengikuti semua pelajaran dengan konsentrasi tinggi. Karena Diah, sahabatku lah yang tiba-tiba membuat otakku berputar memikirkan sekolahku dulu.

Sore tadi  pukul 15.20, aku mendengar berita dari radio cute 98.05 Fm, tentang kabar gembira mengenai seorang designer cantik berasal dari ibukota akan memamerkan hasil rancangannya yang telah terbentuk menjadi busana, tirai, dan lain-lain di kecamatan, dengan perancang Diah Cahya Tirani. Mendengar nama itu aku langsung terpikir sahabat sekolahku dulu. Apakah dia yang akan datang di kecamatan itu ataukah hanya namanya saja yang mirip. Naluriku sangat kuat mengatakan bahwa designer  itu adalah sahabatku. Alasanku sangat sederhana, mana mungkin seorang cantik, designer asal ibu kota yang mau singgah di daerah pelosok kecuali dia memliki kenangan di daerah ini. Aku pun segera mencatat informasi tentang pameran itu, dengan harapan aku dapat kesana. Selain membuka pikiranku akan rancangan busana dan semacamnya, serta harapan besarku untuk bertemu dengan designer itu.

***

Pagi ini serasa dingin menusuk –nusuk sampai tulangku, aku tak peduli itu semua. Aku tengah sibuk bersiap-siap menuju kecamatan. Aku mulai berjalan menuju jalan setapak. Serasa aneh bagiku karena ketika aku pergi ke kecamatan, kehangatan sang surya belum ku rasakan.  Aku takut terlalu pagi untuk mengunjungi tempat pegawai. Akhirnya aku putuskan untuk mampir ke pasar membantu ibu-ibu dan penjual lainnya untuk menyiapkan jualannya. Mereka dengan ramah membiarkanku  melakukannya, toh aku sudah sering melakukan ini. Sebagai tanda terima kasih, biasanya mereka memberikan senyuman termanis mereka dan terkadang aku mendapat sedikit bekal mereka, ya yang paling aku suka yaitu ubi goreng. Dan kali ini, ada seorang ibu yang memang sengaja telah membuatkan nasi bungkus dengan sambal tempe khusus untukku. Betapa nikmat aku menyantapnya, seakan-akan nasi bungkus itu masakan koki profesional tingkat dunia.

***

Kulihat jam di dinding penjual  perhiasan di seberang jalan menunjukkan pukul 07.21. Bergegas ku bawa kakiku melangkah. Lagi-lagi aku menghentikan langkahku ketika ku lihat masjid yang terawat itu. Seakan-akan dia memanggilku untuk melakukan solat ataupun membaca Alqur’an. Sepertinya sudah lama aku tak mampir di masjid yang satu ini, karena memang jaraknya yang cukup jauh dari rumahku. Apalagi di sebelah rumahku ada mushola.  Tidak membutuhkan waktu lama untuk melakukan hal ini, setelah 18 menit berlalu hatiku makin tenang dan mantap untuk mencari sahabatku.

***

Kulihat kecamatan telah ramai dikunjungi manusia. Beberapa orang tak ku kenal, ku rasa mereka dari daerah lain. terlihat antusias sekali mereka mengamati rancangan-rancangan Diah Cahya Tirani itu. Untuk melihat hasil rancangan ini sungguh berbeda. Kami harus mengantri seperti akan masuk rumah hantu. Dalam ruangan pun dibatasi 15 orang per masuk. Giliranku tiba, bersama 14 orang yang lain, kami mulai memasukinya. Di sini aku mendapatkan pelajaran baru, segera saja aku meraih kertas dan pensil di dalam tas kecilku. Aku mulai menggambar tata letak ruangan pameran. Kali ini begitu istimewa, ruangan dengan ukuran 5 x 3 m2 itu, serasa di sulap mirip toko-toko baju di kota-kota besar itu. Setiap pinggiran-pinggiran tembok telah ada pakaian-pakaian yang tergantung di gantungannya. Sedangkan di ruangannya dibuat labirin-labirin yang pada labirin tersebut di berikan waktu maksimal 3 menit untuk melihat masing-masing objek pameran, penikmat rancangan ini harus menyusuri labirin dan tidak boleh kembali. Untuk melihat ulang kami dapat mulainya dari pintu masuk kembali.  Penataan ini sungguh menarik, mebuatku mengangankan membuat kegiatan seperti ini dengan designer diriku sendiri.

 ***

Aku duduk di pojok luar ruang pameran sambil menghayal diriku menjadi seorang designer terkenal. Lamunaku pecah ketika seorang perempuan cantik nan anggun dibalut jilbab berwarna biru muda berbordir bunga di bagian bawahnya dengan gamis polos, tapi modis menyapa dan duduk di sebelahku. Aku hampir saja tak bisa berkata-kata selama 3 menit.

“Diah, Benarkah itu kau?” tanya ku hampir tak percaya.

“Iya, Fi. Ini aku Diah. Sahabatmu yang dulu selalu kau nasehati karena ketidakpercayaan diriku menjalani hidup dan impianku.”

“Diah, selamat ya.’’

“Terima kasih Fi, aku selalu mengingat kata-katamu memotivasi diriku.”

“…………..Sukses untuk kita.” bebarengan mereka mengatakan kata-kata persahabatan mereka, diikuti senyuman dan tawaan.

“Janjiku sudah kupenuhi  Fi. Aku sudah menjadi designer yang percaya diri. Walaupun belum terkenal, tetapi sudah banyak orang yang memakai jasaku untuk mendesign pakaian-pakaian mereka. Tidak hanya pakaian, tapi apapun tentang kain yang perlu diolah. Bagaimana dengan dirimu Fi, mana janjimu?”

Aku terdiam dan menatap Diah dengan tersenyum. “Aku, hmmm… aku sudah penuhi janjiku. Menurutku aku sudah menjadi orang sukses. Ibu-ibu di pasar sangat senang ketika aku datang. Anak-anak kecil di tempatku sangat senang ketika aku membuatkan baju untuk boneka ataupun robot-robotan mereka. Selain itu, aku sudah menjahit di tempat Bu Rini, konveksi yang paling besar di desa kita. Kamu masih ingat kan? ”

“Adik-adikmu,  bagaimana?”. Tanya Diah seketika, ketika dia ingat keinginan sahabatnya untuk menyekolahkan adik-adiknya di luar kota, maklumlah sahabatnya yatim piatu setelah lulus sekolah kejuruan, harus berusaha keras menjalani hidup dan mengurus kedua adiknya.

“Mereka baik-baik saja, tapi mereka belum sempat aku kirim keluar kota untuk menuntut ilmu.”

“Iya, karena kamu tidak berani menjadi dirimu seperti dulu. Ayolah Fi, kamu yang selalu menyuruhku untuk belajar dari tempat lain. Kamu yang selalu bercakap, kita itu harus berkembang jangan stagnan. Kamu pasti akan menemukan sesuatu yang berbeda yang akan mengubah cara pandangmu hingga menjadikanmu lebih baik.”

“Aku tahu Di, tapi gimana dengan adik-adikku, mereka di rumah tanpa aku.”

“Fi, sekarang mereka sudah besar, adikmu sudah ada yang SMA. Mereka sudah dewasa mereka sudah bisa mandiri.”

“Apakah masih ada kesempatan untukku mengembangkan ilmu yang aku pelajari?”

“Pasti Fi, InsyaAlloh. Aku juga sedang membutuhkan partner dalam design ini, aku ingin kau menjadi partnerku. Lusa aku akan ke ibukota lagi. Tenang saja Fi, aku jarang tinggal di ibukota. Aku lebih sering keliling daerah dalam mempromosikan hasil rancanganku. Aku masih ingat, kita paling tidak suka dengan suasana yang terlalu ramai dan penat. Bagaimana mau ikut mencoba?”

“Hmmm……….”

“Ayo Fi, tunjukkan bahwa kamu memiliki semangat 45 untuk menjadi designer terkenal. Bukannya kamu tidak suka mode yang ke barat-baratan yang membuat orang memakai pakaian tetapi seperti tidak memakai pakaian. Kamu rela membiarkan itu semua?”

Tersenyum ku mendengar kata-kata sahabatku, aku langsung teringat ketidakrelaanku dengan mode pakaian yang tak layak untuk dipakai. Tiba-tiba semangatku untuk terjun dalam rancangan busana pun tergugah kembali. Dengan tekad bulat aku harus membuat diriku semangat kembali.

“Di, aku mau ikut kamu, tolong bimbing aku ya!”

“Tentu saja sahabatku.”

Mereka berdua hanyut dalam keharuan yang mendalam. Mereka tak mempedulikan keramaian orang-orang yang berdatangan untuk melihat pameran itu. Ada embun-embun harapan di hati kedua perempuan itu untuk terus meraih sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk orang lain.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: