dew'site

fastabiqul khoirot yukz ^_^

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN DEMOKRATIS DALAM MEMAHAMI PELAJARAN IPA BAGI SISWA SMP

Bentuk-bentuk Pendidikan

Pendidikan demokratis merupakan salah satu bentuk-bentuk pendidikan disamping pendidikan otoriter dan pendidikan liberal. Pada bentuk pendidikan otoriter, pendidik ditempatkan pada pihak yang berkuasa dan utama, sedangkan peserta didik ditempatkan pada pihak yang sekunder. Peserta didik diperlakukan sebagai objek pendidikan. Keadaan ini banyak dilakukan di negara-negara komunis, dimana negara mengatur segala-galanya. Dengan bentuk pendidikan otoriter ini, pendidik berperan aktif dalam proses pendidikan, pendidik mengatur seluruh kegiatan proses pendidikan dan bagi peserta didik, mereka harus patuh kepada pendidik, mereka tidak boleh menentang, dan mereka tidak diberi kebebasan dalam proses pembelajaran. Hal yang demikian dapat mematikan potensi siswa yang menyebabkan siswa tidak atau sulit untuk berkembang.

Pendidikan liberal menekankan pada hak individu dan kebebasan, dalam pendidikannya anak dijadikan subjek yang memegang peranan penting. Peserta didik diberi kedaulatan untuk mencapai kehidupan bebas. Kedudukan pendidik hanyalah sebagai pendorong peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kreativitasnya. Dengan demikian kontrol pendidik sangat kecil dan bisa dikatakan tidak ada, karena pendidik hanya sebagai pendorong saja. Hal ini mengakibatkan perkembangan siswa yang tingkat kepercayaan dirinya rendah lambat dalam perkembang dan bagi tingkat percaya dirinya tinggi dapat berkembang dengan pesat. Sehingga, terjadi kekurangseimbangan yang signifikan antara peserta didik.

Bentuk pendidikan demokratis yaitu bentuk pendidikan yang menempatkan pendidik dan peserta didik dalam keadaan yang seimbang. Pendidik menempatkan diri sebagai pembimbing peserta didik, di lain pihak peserta didik sebagai subjek sekaligus objek. Bentuk pendidikan demokratis ini mengarah pada pendidik dan peserta didik yang seimbang, maka metode pendidikannya lebih mengarah pada metode diskusi, tanya jawab, pemberian tugas, problem solving, dan berjalan dalam suasana yang dialogis. Dengan adanya bentuk pendidikan ini, perkembangan siswa dapat seimbang atau mendekati seimbang. Sehingga perbedaan hasil dalam proses pembelajarn tidak terlalu signifikan.

Teori perkembangan anak

Usia anak SMP merupakan peralihan dari anak-anak menuju remaja. Hal ini mengharuskan pendidik untuk bekerja keras dalam menangani siswa tersebut. Pendidik, perlu memikirkan bagaimana bagaimana proses pendidikan yang sesuai dengan psikologi perkembangan anak pada tahap usia SMP. Jika pendidik mengetahui dan paham pada perkembangan siswa-siswanya, pendidik akan lebihh mudah dalam memntransfer ilmu. Dengan demikian, dapat mempermudah siswa dalam menerima ilmu dan memahami pelajaran IPA.

Menurut Erik Erikson (2007:46-48), “Ada delapan tahap perkembangan anak yaitu kepercayaan versus ketidakpercayaan (masa bayi, tahun pertama),  otonomi versus malu dan ragu-ragu (masa bayi, 1-3 tahun), insiatif versus rasa bersalah (masa kanak-kanak awal, 3-5 tahun), kerja keras versus inferior (masa kanak-kanak tengah dan akhir, 6 tahun-remaja), identitas versus kebingungan identitas (masa remaja, 10-20 tahun), keintiman versus isolasi (masa dewasa awal, 20-30 tahun), generativitas versus stagnasi (massa dewasa akhir, 40-50 tahun), dan integritas versus keputusasaan (60 tahun ke atas)”.

Selain itu, kecerdasan setiap individu juga berbeda. Gardner (2000:2) menyatakan,” Delapan kategori yang komprehensif atau delapan kecerdasan dasar yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetis-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis”. Hal ini menuntut pendidik untuk berperan aktif dalam penanganan masing-masing siswa yang harus dibedakan satu sama lain. Namun, pendidik harus jeli dalam membedakan sikap terhadap siswa, jangan sampai hal ini menghasilkan pikiran yang negatif dalam benak siswa, misalnya: mereka berfikir si A menjadi anak emas guru. Hal ini dapat menimbulkan kecemburuan antarsiswa, sehingga mereka akan kurang menghormati dan menghargai guru disebabkan mereka merasa kurang diperhatikan. Bahkan mereka dapat lebih menyukai si A agar dapat diperhatikan guru atau menghindari si A karena A terlalu diperhatikan oleh guru. Kemungkinan-kemungkinan ini dapat terjadi karena pandangan setiap siswa juga berbeda-beda.

Implementasi pendidikan demokratis

Usia SMP jika dikaitkan dengan teori Erikson merupakan peralihan dari kerja keras versus inferior pada usia 6 tahun sampai remaja dan identitas versus kebingungan identitas pada usia remaja yaitu usia 10-20 tahun. Pada tahap tersebut siswa memang telah termotivasi untuk belajar, mereka dapat mengerjakan tugas-tugas sekolah, namun memiliki kecenderungan  kurang hati-hati dan menuntut perhatian. Selain itu, dimungkinkan juga siswa merasa inferior karena tidak kompeten dan tidak produktif. Menginjak remaja, siswa dihadapkan pada penemuan diri, tentang siapa diri mereka sebenarnya, dan kemana mereka akan melangkah dalam hidup ini. Disinilah peran pendidik dalam menangani siswa-siswanya sehingga mereka bisa mendapatkan dan meraih apa yang mereka inginkan.

Dilihat dari perkembangan anak tersebut, maka ditawarkan bentuk-bentuk pendidikan seperti dijelaskan di atas. Jika disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak, proses pendidikan siswa SMP dapat menerapkan bentuk pendidkan demokratis, dimana pendidik dan peserta didik (siswa) dalam kedudukan seimbang. Dalam proses pembelajarannya, mereka dapat menggunakan metode diskusi, tanya jawab, pemberian tugas, problem solving, dan berjalan dalam suasana yang dialogis. Dengan metode-metode tersebut ada hubungan timbal balik atau komunikasi dua arah antara pendidik dan siswa, dengan demikian keingintahuan siswa terobati. Model pendidikan demokratis ini juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat berbicara, karena proses pembelajaran tidak selalu monoton. Meskipun siswa dituntut untuk mandiri, akan tetapi dalam konteks ini peserta didik membutuhkan pembimbing agar mereka dapat mengeksplore apa yang dapat mereka lakukan tanpa bertentangan dengan peraturan yang ada.

Selain dilihat dari perkembangan anak, kita juga dapat menentukan bentuk pendidikan yang akan dilaksanakan dengan melihat dari kecerdasan masing-masing siswa. Dalam memahami IPA kecerdasan matematis-logis lah yang berperan, sedangkan masing-masing siswa menonjol pada kecerdasan tertentu saja. Mereka tetap memiliki delapan kecerdasan tersebut termasuk kecerdasan matematis-logis. Menurut Gardner (2000),” Sebenarnya orang pada umunya dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat kekuasaan yang memadai”. Akan tetapi, dalam penerapannya siswa tersebut kurang bisa mengikuti pelajaran ini, karena kecerdasan matematis-logis kurang menonjol.   Dengan demikian, pendidikan demokratis juga dapat diterapkan dalam mengembangkan kecerdasan matematis-logis dalam memahami pelajaran IPA. Penerapan siswa sebagai objek saat metode pembelajaran ceramah dan subjek saat metode pembelajaran  diskusi, dapat memudahkan siswa yang kecerdasan matematis-logis nya kurang menonjol untuk memahami pelajaran IPA. Saat siswa dijadikan objek, mereka akan diberi teori-teori tentang IPA tersebut, dan saat siswa dijadikan subjek, mereka akan dibimbing untuk dapat mengerjakan soal-soal IPA, sehingga saat mereka kesulitan mereka dapat berdiskusi dengan siswa lain atau dengan gurunya. Siswa tersebut akan dibimbing untuk terus dan terus berlatih dalam memahami pelajaran ini. Karena berdasarkan pengalaman selamaa ini, kita akan paham dan famuliar dengan IPA , jika kita sering berlatih dan berlatih. Guru matematika saya sering mengatakan  kepada siswa-siswanya dalam proses pembelajaran bahwa kita itu akan bisa karena terbiasa. Kemudian ketika siswa mempraktekannya, ternyata benar mereka mudah memahami pelajaran ketiika mereka menjalani saran dari gurunya. Jadi untuk memahami IPA, kita harus kontinyu dalam mempelajarinya.

Referensi:

Armstrong, Thomas. 2000. Sekolah Para Juara  (terjemahan). Bandung : Mizan Media Utama

Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak (terjemahan). Jakarta: Erlangga

Siswoyo, Dwi dkk. 2007. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta :UNY Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: